Friday, October 22, 2021
Semua Tentang Jawa Timur


Rumah Jamur Yang Berprospek Makmur di Keputih, Sukolilo Surabaya

Siapa sangka budidaya jamur tiram mampu menggeiiatkan perekonomian warga. Tapi itulah faktanya. Meski baru berskala kecil, namun warga Kampung Keputih…

By Pusaka Jawatimuran , in Surabaya Th. 2018 Wisata Edukasi Wisata Niaga , at 21/11/2018 Tag: , , , , ,

Siapa sangka budidaya jamur tiram mampu menggeiiatkan perekonomian warga. Tapi itulah faktanya. Meski baru berskala kecil, namun warga Kampung Keputih Tegal Timur Baru, Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya, bersemangat menggapai hasil yang lebih meningkat. Berbagai upaya pun dilakukan. Seperti apakah kiprah mereka?

SANG itu, jamur tiram baru saja dipanen. Hasilnya belum seberapa, tetapi sangat berarti bagi warga sekitar. Jamur tiram hasil Usaha Kecil Menengah (UKM) Rumah Jamur, adalah salah satu wujud semangat warga. Seperti itulah suasana Kampung Keputih Tegal Timur Baru. Tepatnya di kawasan RW 08 yang merupakan binaan program Kampung Berseri Astra (KBA).

Sorenya, Bu Sumiatun tengah meracik bumbu krispi. Jamur yang sudah disuwir-suwir dicelupkan dalam adonan bumbu. Siap masuk penggorengan. Sore itu, dia sedang sibuk dengan rutinitasnya. Menggoreng jamur krispi, selain membuat pentoi bakso dari bahan jamur.

Jamur tiram yang disiapkan menjadi makanan krispi adalah hasil panen UKM Rumah Jamur. Kebetulan rumah jamur berlokasi di RT 08 RW 08, satu di antara tiga RT yang masuk program kampung binaan PT Astra Internatio­nal Tbk. Dua RT lainnya yang lebih dulu masuk kampung binaan Kampung Berseri Astra adalah RT 03 dan RT 04.

Setelah jamur krispi matang, Bu Sumiatun hanya menjajakan masakan ringannya itu di teras rumah. Konsumennya warga sekitar. Hampir tiap hari dia membuat camilan berbahan jamur tiram hasil panen di kampung sendiri. “Alhamdulillah, lumayan. Paling tidak ini membantu kami. Bahan diambil dari tanaman di lingkungan sendiri,” tutur Bu Sumiatun.

Selain Bu Sumiatun, ada juga Bu Riska yang berjualan sempol. Makanan ringan yang juga berbahan jamur tiram, meski tetap ada paduan daging ayam sebagai pengikatnya. Meski belum maksimal, tetapi usaha kecil menengah warga itu mampu menggairahkan dan membantu kegiatan ibu-ibu di sana.

Ya, jamur tiram yang dibudidayakan di kampung tersebut nyatanya mampu menggeliatkan perekonomian warga. Sayang, semangat dan motivasi tinggi para warga pembudidaya terganjal bag log atau bahan pembuatan jamur yang masih belum bisa diwujudkan sendiri.

Hari Subianto, warga RT 08 yang diikutkan dalam pelatihan jamur tiram di Pandaan (Kabupaten Pasuruan) sebelum berdirinya rumah jamur menyatakan, awalnya nol pengetahuan soal perjamuran. “Tapi dengan ikut pelatihan, kami jadi tahu tentang budidaya jamur. Saya lantas menularkannya ke warga,” katanya.

Hari yang juga menjabat Sekretaris RT 08, menyebut, keberadaan UKM Rumah Jamur sangat bermanfaat bagi warga. Minimal ada aktivitas atau usaha sampingan dari hasil budidaya jamur tiram. Itu membangkitkan gairah warga membuat usaha baru dari produk jamur tiram. Se­lain pentoi jamur, sempol jamur, jamur krispi, juga yang mudah dibuat antara lain pepes atau bothok jamur.

Ketua RT 08 RW 08, Suratmo, ikut bangga dan senang atas keberadaan UKM Rumah Jamur di lingkungannya. “Tadi cuma bisa memanen sekitar 1 kilogram. Biasanya ya antara 1 kg sampai 3 kg,” kata Ratmo.

Sudah setahun berlalu keberadaan rumah jamur. Bu­didaya itu dilakukan di sebuah bangunan semi-permanen berukuran sekitar 3,5 x 4 meter. Dinding dan atap bangu­nan hanya terbuat dari gedhek atau anyaman bambu. Atapnya dilapis terpal guna menghindari dari paparan sinar matahari langsung.

Saat awal berdiri, sekitar 1.000 bag log jamur tiram dibudidayakan. Setelah setahun berlalu, bag log perlu peremajaan. Namun Hari maupun Suratmo, menyebut pihaknya sudah membeli 500 bag log dari penjualan jamur tiram, hasil panen selama ini.

Meski berada di suhu udara panas Kota Surabaya dan lingkungan bekas tempat pembungan akhir (TPA), namun warga tak patah arang. Mereka melakukan berbagai upaya, antara lain mendapatkan bantuan inovasi dari mahasiswa Korsel.

“Kami dibantii alat penguapan suhu ruangan yang ramah lingkungan, terutama kalau cuaca panas. Kalau pas musim hujan alat penguapan itu tak banyak berfungsi. Kami cukup memanfaatkan suhu saat musim hujan,” kata Hari.

Idealnya, budidaya jamur tiram lebih pas jika dilakukan di suhu udara dingin dan lembab. “Hasilnya juga jauh lebih bagus bila dibandingkan dengan budidaya di suhu udara panas. Tapi apa pun masalahnya, kami tetap berusaha,” kata Hari, yang juga suami Bu Sumiatun.

Pria asli dari kawasan Kampung Malang, Kota Surabaya itu melanjutkan, beberapa usaha yang dilakukan selain memberi penguapan untuk mendinginkan dan melembabkan suhu ruangan, juga melapisi dinding-dinding dengan karung goni atau bago. Karung goni itu nantinya disemprot air sehingga suhu ruangan tetap terjaga lembab.

 

Sumber :    Dinukil dari Majalah Derap Desa, Edisi 132, Oktober 2018 [30-31]

%d blogger menyukai ini: