Friday, October 22, 2021
Semua Tentang Jawa Timur


Ikan Hias Koi Mascot Blitar Sejak “90-an

Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, drh. Andjari mengatakan, Kabupaten Blitar dikenal sebagai lumbung dangudangnya ikan…

By Pusaka Jawatimuran , in Blitar Ikan Koi Pengusaha Th. 2018 Wisata Edukasi Wisata Niaga , at 07/11/2018 Tag: , , , , , , ,

Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, drh. Andjari mengatakan, Kabupaten Blitar dikenal sebagai lumbung dangudangnya ikan koi sejaktahun 90-an. Ikan hias koi yang dikenal dengan estetika dan keindahannya ini memang sudah dikembangbiakkan serta dibudidayakan masyarakat Blitar, utamanya di daerah Nglegok dan sekitarnya. Apalagi, hasil ikan koi di wilayahnya itu sudah dipatenkan.

“Saat ini, Blitar menjadi satu-satunya klub ikan koi di Indonesia yang bisa mengadakan kontes koi piala Presiden. Berarti kontes koi tingkat nasional dengan Piala Presiden hanya bisa diadakan di Blitar, Jawa Timur saja,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ikan koi menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat Bli­tar. Apalagi sejak 1990 lalu di Blitar sudah dicanangkan dan sudah terdaftar di Kementerian Kelautan Perikanan Rl sebagai kawasan Minapolitan Ikan Koi dan satu-satunya di Indonesia. Sedang produksi ikan koi sendiri, Andjari mengatakan, pada 2016 men- capai 222.857.000 ekor. Jumlah tersebut

dibudidaya­kan oleh 5.191 pembudidaya. Sedang 2017 mencapai 299,500.000 ekor. “Inilah yang terus dijadikan dasar hukum dalam membuat pro­gram pengembangan dan budidaya perikanan di Kabupaten Blitar,” jelasnya.

Kalau pada awalnya, Minapolitan itu dipusatkan di desa Penataran dan Desa Kemloko Kecamatan Nglegok, kini berkembang di beberapa desa, antara lain Desa Sumber Ringin, Gandu Sari, Suko Sewu dan Desa Pandan, Kecamatan Sanan Kulon serta di beberapa desa lain. Lebih lanjut Andjari menyampaikan, merigapa budidaya ikan koi di Blitar te­rus bertambah luas dan berkembang ? karena harga ikan koi dari tahun ke tahun terus naik. Sehingga banyak petani yang beralih ke budidaya ikan serta berdagang ikan koi, karena hasilnya bisa dirasakan dan kelihatan dibanding menjadi petani.

Dampak dari terkenalnya Kabupaten Blitar sebagai lumbungnya ikan koi, maka tak salah kalau Kabupaten Blitar selalu dijadikan tempat studi banding atau tempat pembelajaran langsung tentang perikanan khususnya mengenai ikan koi dari seluruh Indonesia. Sehingga, mau ti­dak mau Blitar harus terus memacu dan terus berinovasi bagaimana caranya bisa terus menjadi lumbung koi. “Apalagi di Blitar setiap tahun selalu diadakan lomba kontes koi dengan tujuan untuk mengetahui ikan Koi dari yangterbaikyang ada di Blitar,” jelasnya. Andjari menjelaskan, pengembangan budidaya ikan koi di Kabupaten Blitar dibagi menjadi tiga wilayah: sebelah pihaknya menggelar kontes dengan biaya mandiri.

Ikan koi yangterkenal dengan sebutan ikan yang pintar dan sangat cerdas ini, memang bisa dilatih seperti anjing dan kucing. Seupama makan makanan dari tangan empunya atau kadang-kadang dari mulut pelatihnya. Dan Ikan koi juga termasuk hewan omnivora yang dikenal suka menguyah tanaman kolam. Koi setelah dikembangkan Jepang sebagai Estetika dan keindahan, maka harga menjadi melambungdan banyak diserbu orang, apalagi koi dipercaya membawa kebaikan bagi sang empunya.

Apalagi ikan koi melambangkan ba­nyak kebajikan bagi penghobi atau pemiliknya. Mereka diakui sebagai simbol ketekunan dan daya tahan serta kekuatan individualisme. Selain itu dipercaya memiliki makna, karena ikan koi dapat membentuk susunan dari warna yang berbeda dan unik, maka tak mengherankan se­tiap rona memiliki konotasi masing-masing.

Seperti ikan koi emas memiliki arti kekayaan dan kemakmuran. koi metalik me­lambangkan kesuksesan dalam bisnis. Asagi koi biru, merah dan abu-abu melam­bangkan positif. koi hitam simbol partriarki.

“Siapa yang tidak tergoda keindahan ikan koi. Ikan koi memang indah, sisiknya yang berwarna-warni dan bentuk tubuhnya yang menggemaskan, membuat ikan ini banyak dicari orang,” pungkasnya. •

Sumber :    Dinukil Dari Majalah Warta BUMD Media Informasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Edisi 34 April 2018 hal. 11

%d blogger menyukai ini: