Friday, October 22, 2021
Semua Tentang Jawa Timur


Blitar Lumbung Ikan Koi

Jawa Timur merupakan provinsi yang memiliki perairan yang mempunyai berbagai macam jenis ikan beranekaragam. Beberapa diantaranya mempunyai nilai jual yangcukup…

By Pusaka Jawatimuran , in Blitar Budidaya Ikan Koi Pengusaha Th. 2018 Wisata Edukasi Wisata Niaga , at 07/11/2018 Tag: , , , , ,

Jawa Timur merupakan provinsi yang memiliki perairan yang mempunyai berbagai macam jenis ikan beranekaragam. Beberapa diantaranya mempunyai nilai jual yangcukup tinggi, yakni salah satunya adalah ikan koi (cyprinus carpio) yang salah satunya adalah ikan hias potensial yang dibudidayakan di provinsi ujung timur pulau Jawa, terutama di Kabupaten Blitar.

Cholis Effendi, salah satu pembudidaya ikan koi di Desa Sumber Ringin, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar merasa bangga dan gembira. Usaha yang ia tekuni dalam membudidayakan ikan koi selama 9 tahun sejak 2009 menikmati hasil. Berawal memberanikan diri memasarkan ikan koi di desanya, Cholis belajar mengerti dunia perikanan secara perlahan. Meskipun buta soal seluk beluk ikan koi, tapi tekadnya untuk berkecimpung di dunia perikanan membuahkan hasil lumayan.

Setelah berjalannya waktu dan tampak hasil, Cholis pun mulai membeli ikan koi yang masih anakan untuk dibudidayakan. Apalagi, pria sederhana dan rendah hati ini terobsesi dengan omongan banyak orang terkait dengan mitos ikan koi.

“Karena ikan koi itu membawa keberuntungan, kedamaian serta kesejahteraan bagi yang memelihara atau berkecimpung dengan ikan tersebut, maka saya ingin sekali,” ujarnya.

Kabupaten Blitar tidak hanya terkenal dengan potensi telur dan unggasnya. Kota Patria inijuga memiliki potensi budidaya ikan koi. Bagaimana potensi tersebut dikembangkan warga setempat ?

 PASAR YANG DITEMBUS: KALIMANTAN, SUMATERA, JABAR, JATENG, JAKARTA, BANDUNG, MAKASAR, PAPUA SERTA BALI.

Pria lajang ini memulai usaha Ikan Koi berada di rumah orang tuanya yang terdapat di Desa Sumber Ringin, Kecamatan Sanan Kulon, Kab. Blitar dengan modal awal sebesar Rp. 7.000.000. Uang tersebut ia gunakan untuk membuat kolam dengan lebar 1,2 X 4 M, tabung oxygen, airator dan sisanya dibelikan bibit .ikan sebanyak 400 ekor Ikan Koi.

Begitu seterusnya, hingga akhirnya Cholis memutuskan untuk beralih usa­ha menjadi pembudidaya ikan, khususnya dalam penyedia bibit ikan koi di wilayah Blitar dan sekitarnya. Pasar yang ditembus pun sampai keluar jawa, seperti Kalimantan, Sumatera, Jawa Barat, Ja­wa Tengah, Jakarta, Bandung, Makasar, Papua serta Bali.

Menurut Cholis, usaha budidaya ikan koi yang ia lakukan,sebetulnya tidak sulit. Bahkan bisa dikata, usaha tersebut dinilai sangat mudah dan gampang. Terpenting

ada kemauan, telaten, kerja keras serta kejujuran. “Itulah yang harus dimiliki oleh seorang petani, pembudidaya ikan, karena dengan kejujuran maka kita bisa dipercaya oleh konsumen atau pelanggan,”terangnya.

Dengan kejujuran maka seseorang akan mudah berinteraksi dengan pelanggan baik di pasar maupun di tempat budidaya ikan koi. Karena pelanggan bisa mengetahui secara langsung baik buruknya ikan. “Yang penting kita sebagai pengusaha mau memberikan penjelasan secara detail seluk beluk atau cara-cara memelihara ikan koi yang baik dan benar. Terutama bagi pemula atau orang yang akan memelihara koi dan masih buta tentang ikan koi,” terangnya.

Cholis mencontohkan, membeli ikan koi dari petani untuk dibesarkan mem- butuhkan proses tiga hingga enam bulan. Ukuran tepat untuk bisa dijual mulai 3 centimeter, hingga 5 centimeter dengan beda grade. Untuk grade A dilepas dengan harga Rp 75.000 sampai Rp 150.000. Grade B

seharga Rp 30.000 hingga Rp 50.000, grade C seharga Rp 5.000 sampai Rp 25.000, dan terakhir grade D seharga Rp 1000 hingga Rp 4.000 per ekor. Dibantu tiga orang karyawan, Cholis mampu menyediakan bibit ikan koi un­tuk dipasarkan di wilayah Blitar dan se­kitarnya hingga keluar pulau. Dari modal awal Rp. 7.000.000, usah yang ia rintis selama 9 tahun itu mampu berkembang pesat. Bahkan, indukan Ikan Koi yang ia miliki sudah dipatenkan sebanyak 12 ekor.

“Belum lagi calon-calon indukan yang sudah siap kita kawinkan. Jumlahnya sangat banyak. Bahkan harga indukan yang sudah dipatenkan itu mencapai puluhan juta rupiah per ekornya,” terang Cholis.

Dari hasil usahanya, Cholis mampu membeli kendaraan untuk mendukung usahanya. Termasuk mendukung pembiayaan sekolah sang keponakan dan merenovasi rumah ibunya. Cholis membenarkan kalau memang ikan asal China ini membawa keberuntungan dan kesejahteraan bagi sangempunya. Dalam menjalankan usahanya, Cholis mampu memutar dana tidak kurang dari Rp. 75.000.000 setiap bulan untuk membeli ikan koi. “Buktinya, saya sendiri yang merasakan dan membuktikan, dengan usaha ikan koi hidup yang tadinya pas-pasan dan bisa dikatakan nol besar karena tidak mempunyai penghasilan. Kini alhamdulillah, tidak kurangdari 60 juta bahkan bisa lebih setiap bulan uang yang saya keluarkan untuk membeli ikan-ikan pada pembudidaya yangada di sekitar Blitar,” jelasnya.

 Sumber :    Dinukil Dari Majalah Warta BUMD Media Informasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Edisi 34 April 2018 hal. 8-10

%d blogger menyukai ini: