Friday, August 12, 2022
Semua Tentang Jawa Timur


Sejarah Lahirnya Sesanti Lambang Daerah, Kabupaten Bondowoso

Pada 1975 dirasakan bahwa lambang daerah Kabupaten Bondowoso belum lengkap dan sempurna, perlu ditambah dengan sesanti. Untuk itulah perlu diadakan…


bondowosoPada 1975 dirasakan bahwa lambang daerah Kabupaten Bondowoso belum lengkap dan sempurna, perlu ditambah dengan sesanti. Untuk itulah perlu diadakan usaha bersama penciptaan se­santi lambang dengan kata-kata singkat tetapi mengandung penger- tian filosofis yang mencerminkan historis kultural kehidupan masyarakat daerah Kabupaten Bondowoso. Setelah melalui perbin- cangan dalam sidangDPRD Kabupaten Bodowoso, pada 1 Mei 1975 dan 2 Mei 1975, dengan memadukan pertimbangan seorang pakar bahasa tentang susunan kata-kata sesanti, membahasnya dengan mencermati susunan kata-kata: Swastika Bhuwana Krti. Maka perlu mengadakan perubahan naskah, menimbang bahwa:

1.            Perubahan istilah Swastika menjadi Swasthi. Alasan yang dikemukakan ialah istilah Swastika dengan lambangnya berupa jentera yang berputar ke kanan, mengingatkan lambang negara Jerman (masa Adolf Hider) yang fasistis. Hal itu menimbulkan kesan kurang baik dari kalangan para intelektual terhadap salah satu bagian wilayah negara Republik Indonesia.

2.            Perkataan Bhuwanakrti hendaknya diubah men j adi Bhuwana Krta. Dengan pengaruh tata bunyi bahasa Madura, perkataan Krti akan berubah ucapannya oleh masyarakat luas menjadi Krte yang ber- arti pertunjukan tari/wayang topeng (wayang Madura, khusus- nya di Prajekan).

3.            Lebih-lebih uraian mengenai arti dan makna Swastika sebagai lambang sebagaimana tercantum pada dokumen sejarah lahirnya Sesanti Daerah Kabupaten Bondowoso,  pada nomor 1 dan 2, hendaknya dihapuskan, mengingat tidak sesuai dengan pandangan sosio kultural masyarakat Bondowoso yang penduduknya sebagian besar beragama Islam. Sedangkan pada konsep awalnya, makna Swasthika sebagai gambaran lambang agama Hindu.

Akhirnya, terbitlah di dalam Lembaran Daerah Kabupaten Bondowoso, Nomor 34 Tahun 1975 tentang Perubahan untuk Pertama Kalinya Peraturan Daerah Kabupaten Bondowoso Nomor 1 Tahun 1970, yang antara lain:

Pasal 1: Menetapkan Sesanti Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Bondowoso yang berbunyi Swasthi Bhuwana Krta, yang mempunyai arti dan makna serta memberikan ajaran falsafah:

Barang siapa di dunia melakukan amal perbuatan yang baik dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa, akan mendapat kesempurnaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Pasal 2: (1) Mengubah pasal 2 Peraturan Daerah Kabupaten Bondowoso Nomor 1 tahun 1970 sehingga berbunyi sebagai berikut: Lambang daerah terbagi atas empat bagian, yaitu:

a)    Perisai.

b)   Bentuk pohon beringin yang terwujud dari kumpulan beberapa bentuk lukisan.

c)    Asap kepala kereta api (lokomotif).

d)   Pita kuning bertuliskan “Swasthi Bhuwana Krta”

(2) Menambah satu ayat pada pasal 3 Peraturan Daerah Kabu­paten Bondowoso, Nomor 1 tahun 19701 sebagai berikut: Pita berwarna kuning dengan garis tepi berwarna hitam terlukis di bagian bawah perisai, melengkung sejajar dengan garis ujung perisai di mana masing-masing ujung pita tersebut melekuk dan ujungnya yang runcing menyentuh tepi sebelah lukisan daun tembakau dengan tulisan “Swasthi Bhuwana Krta” terdiri dari huruf balok berwarna hitam.

Arti dari hubungan kata-kata sesanti Swasthi Bhuwana Krta:

a)        Swasthi: 1. Selamat bahagia batin, 2.  Merdeka, 3. Menyatu diri dengan Tuhan untuk mendapatkan kebahagiaan lahir batin atau keselamatan dunia akhirat.

b)     Bhuwana-Krta:

Kemakmuran dunia atau kesempurnaan dunia. Sedang selengkapnya menurut makna dan ajaran falsafah mempunyai arti: “Barang siapa di dunia melakukan amal perbuatan yang baik dan menjauhkan diri dari perbuatan desa akan mendapat kesempurnaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. H. Mashoed, MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso,Papyrus, Surabaya, 2004, hlm. 190-192

Comments


Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: