Wednesday, September 28, 2022
Semua Tentang Jawa Timur


Soehardi, Blitar

26 Mei 1951, R. Soehardi lahir di Blitar, Jawa Timur, Indonesia. Akhirnya lebih dikenal dengan Hardi Tahun 1970, hidup di…

By Pusaka Jawatimuran , in Blitar [Kota] Seniman Sosok Th. 2008 , at 11/02/2013 Tag: , , , , , , , ,

HARDI PELUKIS BLITAR - Copy26 Mei 1951, R. Soehardi lahir di Blitar, Jawa Timur, Indonesia. Akhirnya lebih dikenal dengan Hardi

Tahun 1970, hidup di Ubud, Bali melukis bersama W. Hardja, Anton Huang, kemudian kuliah di Akademi Seni Rupa

1970 – 1980an,  karya lukis Hardi banyak mengekspos masalah sosial, dan menjadi pencetus Gerakan Seni Rupa Baru yang fenomenal, menjadi karya-karya yang teduh, meski tetap dengan sapuan yang galak, dan blak-blakan, kadang meledak-ledak. Seorang kolektor dan pengamat karyanya menandai perubahan, memiliki kepribadian terbuka.

Surabaya.
Tahun 1971 – 1974, Hardi kuliah di STSRI ASRI Yogyakarta.

 Tahun 1975 – 1977, kuliah di De Jan Van EYC Academie di Maastricht, Belanda. Dalam bidang senirupa Hardi berguru kepada Daryono, Fadjar Sidik, Widayat, Prof. Hans Seur, Prof. Pieter De Fesche, Nyoman Gunarsa, dan Drs. Sudarmadji.

Tahun 1976,  mengadakan pameran tunggal di Heerlen Belgia, kemudian di Taman Ismail Marzuki, Bentara Budaya, Balai Budaya, Komala Galerry Ubud, Wisma Seni Depdikbud, Hotel Sahid, kemudian pameran bersama dengan berbagai kelompok pelukis, sampai tahun 1992-an Hardi tidak mencatat lagi pameran-pamerannya karena nyaris tiap bulan mengadakan pameran.

5 Desember 1978,  Hardi ditangkap dan di tahanan Laksusda Jaya, karena lukisan foto dirinya, berukuran 60 x 30 cm, dengan pakaian jendral berbintang dan bertajuk Presiden tahun 2001, Soehardi. Pamasangan foto dirinya di tengah pemerintah represif dan militeristik Orde Baru merupakan protes dan perlawanan, sekaligus tantangan kepada penguasa. Namun, berkat campur tangan Wakil Presiden Adam Malik saat itu, Hardi dibebaskan.

18 April 1999 – 18 Mei 1999, Hardi mengadakan pameran tunggal di Graha Budaya Indonesia di Tokyo.

Mei 2008 akhir,  Hardi mengikuti pameran bersama “Manifesto” di Galeri Nasional, menghadirkan karya bertema tersangka terorisme berjudul Waiting for the death penalty.

Karyanya dikoleksi Keluarga Cendana, menteri-menteri kabinet Orde Baru dan Orde Reformasi, tokoh-tokoh nasional, kalangan pengusaha, dan rekan-rekan seniman, selain lembaga-lembaga bergengsi seperti Museum Purna Bhakti Pertiwi, Balai Senirupa DKI, Dinas Kebudayaan DKI, TIM, LBH, Wisma Seni Nasional, Bentara Budaya, PT. Coca Cola Museum Neka Ubud – Bali, Yayasan Pengembangan Bisnis Indonesia, dll.
Terakhir dia aktif dan menjadi Ketua UMUM Ormas Seniman Indonesia Anti Narkoba (SIAN) di bawah naungan bersama Badan Narkotika Nasional (BNN).=S1Wh0T0=

%d blogger menyukai ini: