Kangkung Jadi Primadona Desa Baye Kec. Kayen, Kab. Kediri

KANGKUNG merupakan salah satu jenis sayuran yang sangat akrab dikonsumsi masyarakat Indonesia. Di Desa Baye, Kec. Kayen Kidul, Kab Kediri pun, sayur kangkung seolah lekat dengan masyarakat setempat. Sebab, warga di sana membudidayakannya.

Tak sekadar sayuran atau kulupan yang dipadu dengan nasi pecel dan nasi tumpang makanan khas Kediri. Desa tersebut juga menjadi sentra penghasil kangkung yang memasok kebutuhan di Kediri dan sekitarnya.

Di musim kemarau sayur asem kangkung merupakan makanan favorit yang sangat menyegarkan. Kangkung ju­ga bisa dimasak dalam berbagai bentuk hidangan seperti tumi’s (cah) kangkung, urap-urap, loncom dan Iain-Iain.

Luas lahan pertanian kangkung di desa Baye sekitar 15 Ha. Jenis kangkung yang dibudidayakan adalah kangkung rawa dan kangkung tanah, namun mayoritasnya berjenis kangkung rawa. Awal mula Desa Baye ini menjadi sentra pertanian kangkung karena lahan di sana berupa rawa sehingga komoditas pertanian lain kurang bagus.

Sawah di sana dulunya juga merupakan pembuangan air dan langganan banjir dari limpahan Sungai Brantas, ketika musim hujan. Namun setelah ada pembangunan Sungai Tunggorono dampak banjir tersebut jauh berkurang.

Tanaman kangkung semula tidak begitu dilirik dan diminati para petani, karena harganya yang murah dan dapat dicari secara gratis di sungai-sungai atau rawa. Namun saat ini hal tersebut berubah, karena kangkung menjadi sangat disukai masyarakat setempat.

Hasil panen kangkung Baye bisa mengalahkan hasil produksi pertanian lainnya seperti padi dan jagung. Selain itu budidayanya juga mudah, jarang terkena hama dan jangka waktu panennya juga sangat pendek serta didukung dengan nilai jual cukup stabil.

Tanaman kangkung bisa dipanen pada umur 20 hari. Se­telah itu dapat dipanen lagi setiap 20 hari. Setelah panen, dalam 5 hari lagi sudah bersemi dan perlu sedikit pemupukan untuk pertumbuhan dan peningkatan produksi.

“Penanaman kangkung jenis rawa ini bisa bertahan sampai 20 tahun tanpa penanaman ulang sehingga biaya produksinya sangat minim. Kangkung rawa ini lebih enak karena tekstur lebih keset (tidak terlalu lunak berair) dan gurih (sehingga jika dipakai kulupan lebih disukai,” tutur H Giyono, Kepala Desa Baye yang juga merupakan salah satu petani kangkung.

la juga menambahkan pendapatan petani dalam sehari (dengan areal 100 ru) mampu memperoleh uang sekitar Rp 300 ribu. Kangkung perikatnya seharga seribu rupfah jika dijual di sawah, tetapi jika dibawa ke pasar dapat dijual Rp 3 ribu per ikat, sehingga lebih baik dijual sendiri.

Roda perekonomian pun berjalan dengan baik. Bahkan perputaran uang yang dihasilkan dari pertanian kangkung tidak hanya menguntungkan petani. Di Desa Baye ada buruh tani yang menyediakan jasa mengikat sayur kangkung untuk dijual ke pasar, dengan upah Rp 4 ribu per 100 ikat. Tidak sampai satu hari mereka bisa menghasilkan 1.000 ikat, sehingga buruh tani tersebut bisa memperoleh pendapatan Rp 40 ribu.

Masyarakat Baye yang menjadi pedagang kangkung jumlahnya kurang lebih 25 orang yang setiap hari membawa kangkung ke pasar-pasar seperti Setonobetek, Pasar Grosir Ngronggo, Pasar Pare, Papar bahkan sampai ke Nganjuk. Penghasilan pedagang ini lumayan karena selisih harga pasar dan harga di sawah sekitar Rp 2 ribu per ikat. (rni, dbs)

Sumber :    Dinukil dari Majalah Derap Desa Edisi 132, Oktober 2018 hal. 41

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *