Warung Mbah Cokro Suguhkan yang Berbeda di Surabaya

Terinspirasi sosok guru bangsa HOS Cokroaminoto, warung angkringan di Jl Prapen No. 22 Surabaya ini dilabeli ‘Mbah Cokro, Indonesia Masih Ada’. Menyuguhkan kesan tradisional, warung ini mampu menarik beragam kalangan. Penasaran?

Hiduplah Indonesia Raya…’ Kalimat itu mengalun damai, mengawali lagu kebangsaan yang dinyanyikan ratusan pengunjung Warung Mbah Cokro dalam agenda bertajuk ‘Aksi Galang Dana’ (10/8). Aksi solidaritas itu digelar untuk meringankan beban korban bencana di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Malam itu cukup ramai. Pengunjung sampai rela duduk lesehan di tempat tak beratap yang sebelumnya disiapkan pemilik warung, Zurqoni. Nah, selain mengumpulkan hasil kedermawanan pengunjung, aksi itu juga diramaikan lelang dan live music (Halaman Pengelana, Suar Marabahaya, Teras Warna, Mata Rante, Totenk MT Rusmawan dan Alfian Dhani).

Agenda seperti ini bukan pertama kali digelar. Berdiri sejak Tahun 2014, warung ini hampir tiap minggu jadi tempat berbagi aspirasi dan diskusi beragam kalangan. Baik itu mahasiswa, seniman, budayawan, jurnalis, atau komunitas yang lain. Bahkan, beberapa orang penting pun pernah bertandang.

“Terinspirasi HOS Cokroaminoto, saya ingin warung ini jadi tempat berkumpulnya orang-orang yang nanti bisa menjadi sesuatu untuk Indonesia. Selain itu, orang yang datang juga punya imajinasi, bahwa inilah Indonesia,” tutur Zurqoni.

Karena itulah warung ini dikonsep tradisional dan propertinya didekorasi khas tempo dulu. Meja dan kursi mayoritas berbahan bambu, dindingnya terbuat dari anyaman, tulisan yang menempel menggunakan ejaan lama. Koleksi barang jadul (jaman dulu) dengan nilai historis menghiasi sudut-sudut warung, serta perabotan gelas dan piring terbuat dari seng.

Kesan tradisional itu tak sekadar ditunjukkan da­lam penataan warung. Namun, juga pada fasilitas, pelayanan dan hidangan menunya. Wifi tidak ada. Makanan dan minuman yang disuguhkan pun didapat dari pasar tradisional serta diolah masyarakat rumahan dengan harga yang bersahabat. Di antaranya, nasi kucing, beragam gorengan, sate usus, telur puyuh, jahe, tape, kopi, dan lain-lain.

Abu, salah satu pengunjung asal Madura mengaku nyaman dan suka nongkrong di warung Mbah Cokro. Kata dia, selain nongkrong juga mendapat nuansa yang berbeda serta banyak ilmu.

“Ya, di sini ‘kan sering buat diskusi juga. Teman saya dari luar kota, kalau lagi main ke Surabaya, minta diajak nongkrong di Warung Mbah Cokro. Mesti pe­nasaran dengan warung ini,” imbuhnya. (fan)

 

Sumber :    Dinukil Dari Majalah Puspa, Edisi 92 September 2018 hal. 42

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *