Pabrik Es Talangsari Tetap Eksis, Jember

PABRIK es balok tertua dan tetap eksis sampai sekarang ini terletak di Jalan KH Siddiq No 21, Lingkungan Talangsari, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates. Jember. Sama dengan pabrik es Laban di Lumajang, pabrik es Talangsari Jember ini sama-sama berada di bawah

naungan PT Moya Kasri Wira Jatim yang berkedudukan di Pandaan, Pasuruan. Sedangkan PT Moya Kasri sendiri sebagai anak perusahaan PT Panca Wira Usaha (Wira Jatim Group) dan merupakan BUMD milik Pemprov Jatim. Kini pabrik satu-satunya di Jember itu memproduksi 500 – 600 balok es setiap hari. Produksi yang terbilang tidak banyakjika dibandingkan beberapa tahun setiap hari bisa memproduksi sampai 6.000 es balok. Tapi, pabrik es itu kini sudah tutup.

“Melihat sejarahnya, pabrik es di Jember ini berdiri tahun 1915. Tapi soal urusan mesin tak lagi menggunakan mesin peninggalan Belanda. Semua mesin es kami dari Jepang. Satu hari kapasitasnya 600 es balok. Tapi kami hanya memproduksi 500 es balok sesuai permintaan pasar,” tutur H. Buang Slamet yang duduk sebagai manajer dan mulai bekerja di pabrik es tahun 1972. Sebelumnya, dia juga bekerja di pabrik es Betek, Malang. Secara keseluruhan, pabrik es balok yang berada di bawah naungan PT PWU ada sembilan pabrik.

Menurut H Buang Slamet, pabriknya berproduksi es balok tergantung permintaan pasar dengan memenuhi kebutuhan es skala industri dan perda- gangan. Nelayan di Puger membeli es di pabrik ini untuk mengawetkan ikan. Mitra Tani, perusahaan yang memproduksi kedelai edamame beku juga menjadi pelanggan tetap pabrik tersebut “Kedelai edamame dieksport ke Jepang. Sebelum diekspor ke Jepang. Sebelum diekspor ke Jepang, kedelai direbus dulu lalu diberi pendingin es supaya warnanya tidak berubah. Jadi, warna tetap asli. Nah, kalau musim panen, Mitra Tani setiap hari pesan kepada kami antara 250-400 es balok. Musim panennya mulai Desember sampai sekarang ini. Biasanya masa panen lima sampai enam bulan,” tutur H Buang Slamet. Selain pesanan Mitra Tani, pabrik es ini juga melayani kebutuhan nelayan di Puger dan Situbondo. Harganya setiap balok Rp 12.500 sampai di tempat. Soal harga, antara perusahaan es di Jember dan Lumajang biasanya melalui kesepakatan. “Kami mempunyai 15 karyawan yang diatur dengan model ship, karena pabrik ini bekerja 24 jam. Ini tuntutan, karena mengimbangi Mitra Tani yang juga bekerja selama 24 jam. Jadi, dalam 24 jam kami melayani sebanyak400 ba­lok. Tapi, pengirimannya tidak langsung. Setiap tiga jam sekali, kami harus kirim 40 atau 50 balok,” katanya. Sebagai pabrik es di bawah naungan PT PWU, pabrik es Talangsari ini boleh dibilang moncer karena berada di urutan kedua setelah pabrik es Pandaan. Tapi kalau dilihat dari kelasnya seperti Luma­jang, Situbondo dan Malang maka pabrik es Jember ini termasuk yang terbaik. Pabrik es Talangsari tahun 2017 lalu, bisa memberi keuntungan Rp 500 juta lebih/ tahun. Bahkan, ke depan ada keinginan dari manajemen meluaskan usahanya dengan membuka investasi baru.

Dari sejarahnya, pabrik es Talangsari yang didirikan tahun 1915 ini merupakan aset yang diambil alih pemerintah pusat dari tangan kolonial Belanda. Aset itu kemudian diserahkan kepada Pemprov Jatim tahun 1962. Tidak aneh, bangunan utama yang menjadi kantor pabrik tersebut berupa bangunan era kolonial. ■verly/endang/alfan.

Sumber :    Dinukil Dari Majalah Warta BUMD Media Informasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Edisi 34 April 2018 hal. 12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *