SATE AYAM PONOROGO

BERADA di kota Ponorogo, rasanya ada yang kurang kalau tidak menikmati sate ayam H.Tukri Sobikun. Itulah yang kami lakukan dalam rombongan kecil saat berada di Bumi Reog ini, selalu mampir ke sate H Tukri Sobikun. Warung Sate H Tukri Sobikun terletak di Jalan Lawu, Gang Sate Ponorogo.

Dalam penyajiannya, warung sate ini selalu menggunakan ayam kampung dengan bumbu yang sangat enak. Bumbu kacangnya mirip dengan bumbu pecel Jawatimuran dan sangat kental. Setiap satu porsi biasanya diberi nasi atau lontong dengan 10 tusuk sate.

Maka, tak heran bila sate khas Ponorogo ini tidak hanya terkenal di kalangan masyarakat saja, namun juga terkenal di kalangan pejabat.

Sate terasa enak, karena pengelolanya selalu menggunakan daging ayam kampung pilihan. Itu sebabnya rahasia kelezatan sate ayam yang telah dirintis sejak sekitar tahun 1950 ini terletak pada penggunaan rempah-rempah saat pengolahan. Bahkan dengan rempah- rempah asli itu, sate ayam Ponorogo ini bisa bertahan hingga beberapa hari. Maka, tak heran pula banyak pembeli yang pesan dibuat oleh-oleh pulang.

Bila membeli dibawa pulang, bumbu satenya diberikan dalam kondisi kering. Mirip bumbu pecel atau gado-gado. Rasa bumbunya manis dan sedikit pedas. Namun ketika menyantap di warung sate ini, yang menggembirakan adalah bumbunya disediakan dalam mangkok sehingga tidak mungkin kekurangan bumbu. Begitu juga irisan bawang merah juga disediakan dalam mangkok tersendiri.

Rasa sate ayam Ponorogo ini memang cukup enak dan empuk disamping ukurannya yang besar-besar. Rahasia membuatnya, daging ayam yang akan disate dibumbui dulu dengan berbagai rempah seperti bawang putih, bawang merah, ketumbar, laos, gula, garam, ketumbar, jinten, kemiri dan daun salam. Kemudian baru dibakar. Saat membakar daging dicelupkan dalam larutan gula Jawa yang tidak terlalu kental. Nah, setelah dicelupkan dan daging sudah kuning kemerahan baru diangkat dan dibakar.

Jangan heran, dengan cara masak seperti itulah sate yang diproduksinya bisa tahan sampai dua sampai lima hari tanpa rusak. Dan jangan heran pula karena saking larisnya dalam sehari warung sate ayam ini bisa membakar sampai 7.500 tusuk sate. Jumlah ini bisa bertambah pada saat hari raya keagamaan atau liburan sekolah. Sebab, saat-saat seperti ini warung selalu penuh dengan para pelanggan dari berbagai daerah.

Apalagi menjelang lebaran sampai libur lebaran habis. Pembeli sudah tidak mungkin membungkus bawa pulang kecuali memesan jauh-jauh hari bahkan sampai hitungan bulan. Saat situasi seperti ini, jika makan di tempat akan dibatasi porsi dan jumlahnya.

Warung sate H Tukri Sobikun hanya menyediakan menu utama sate ayam. Kalau menu pendukung ada kerupuk sama jajanan ringan. Soal harga sate ayam sebetulnya mengikuti harga ayam di pasar. Misal, kalau sekarang harga ayam naikotomatis juga harus dinaikkan dengan tidak mengurangi mutu dan tidak mengecilkan ukuran sate. Biasanya keputusan menaikkan harga pada saat- saat lebaran, tahun baru dan natal. Tapi kalau harga ayam sudah normal lagi, pasti harga diturunkan.

Usaha ini sekarang diteruskan generasi ketiga H Tukri Sobikun. Pada awal usahanya, dahulu tidak mempunyai tempat menetap untuk berdagang, melainkan hanya di emperan toko pasar. Seiring pesanan sate yang cukup banyak, lama-lama pemiliki sate ini mampu membeli sebidang tanah dan membangun rumah untuk berdagang.

Tanah yang semula di sekitarnya hanya area persawahan, lama-kelamaan banyak rumah-rumah yang dibangun di sekitar area Sate Ayam H. Tukri Sobikun. Tak disangka, banyak pula yang turut serta berdagang sate ayam.

Kalau dulu warungnnya yang seu- kuran garasi mobil, kini sudah berubah menjadi rumah makan yang besar yang bisa menampung puluhan orang. Dan yang membuat pelanggan sate ayam ini tetap setia adalah cita rasa sate ayam yang tidak berubah dari sejak zaman dulu. Di sini juga tidak memakai bumbu pabrikan, atau penyedap rasa. Semua masih alami, bumbu-bumbunya masih sama sejak dulu sampai kini. Itu sebabnya mereka yang datang menikmati kuliner sate ayam ini pasti akan senang. Ini bisa dilihat dari pembeli yang datang setiap hari. Malah jika hari libur bisa dipastikan pembeli dari luar kota yang mendominasi.

Rombongan kecil kami pun merasa puas usai menikmati Sate Ayam Ponorogo H. Tukri Sobikun. Komentar mereka, sate ini memiliki rasa dan ciri khas yang beda dengan sate ayam yang lain. Bagi yang sudah sering membeli dan mera- sakan sate ini pasti akan mudah mengenali dengan baik ciri, rasa dan tata cara penyajian yang memang beda.yan

Sumber :    Dinukil dari Majalah Warta BUMD, Media Informasi Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Edisi : 34 April 2018 [40-41]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *