Nostalgia di Pabrik Gula, Di Desa Kaliboto, Jatiroto Kab. Lumajang

Membicarakan istilah nostalgia merupakan hal yang sangat menarik, apalagi bagi orang-orang yang pernah dan sedang merasakannya. Nostalgia merupakan kerinduan terhadap sesuatu yang sudah jauh letaknya atau sudah tidak ada lagi pada saat sekarang. Nostalgia juga berarti kenangan manis dan indah pada masa lalu yang pernah dilewati ataupun diketahui.

Dari istilah nostalgia itulah beberapa tempat, peristiwa dan bersama siapa kita melewatinya terkadang sengaja dicari untuk mengenang kembali masa- masa yang sudah terlewati belasan bahkan puluhan tahun lalu untuk selalu mengenangnya dan melihat segala perubahannya.

Dan mungkin, bagi telinga awam nama Djatiroto tidaklah terlalu asing jika terdengarnya. Djatiroto sering dikonotasikan sebagai tempat atau keberadaan Pabrik Gula (PG) besar di Indonesia beberapa tahun lalu. Bagi mereka yang kini berusia di atas 40 tahun dan pernah belajar ilmu bumi atau geografi, tentu pernah mendapatkan pelajaran dari para guru Sekolah Dasar (SD) bahwa ada PG besar di Djatiroto. PG Djatiroto yang terletak di Desa Kaliboto, Jatiroto, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur dalam wilayah kerja PT Perusahaan Nusantara XI ini telah berdiri pada awal 191 fl­an dan merupakan salah satu unit usaha HVA yang bermarkas di Amsterdaam. Padatahun 1884, masih dalam rencana pembangunan pabrik gula, lalu pada 1901 pelaksanaan babat hutan, 1905 terjadinya pembangunan pabrik gula, dan 1910 mulailah melaksanakan giling.

Tahun 1912 terjadi peningkatan kapasitas giling dan juga pada tahun tersebut terjadi pergantian nama dimana sebelumnya PG Ranu Pakis menjadi PG Djatiroto. 1972 melaksanakan rehabilitasi tahap I dan tahun 1989 rehabilitasi II selesai dengan kapasitas giling dimana sebelumnya hanya 2400 tth menjadi 6000 tth. Setelah mengalami beberapa kali rehabilitasi dan peningkatan kapasitas, kini PG Djatiroto mampu menggiling tebu 1,1 juta – 1,2 juta ton per tahun dan menghasilkan gula lebih dari 80000 ton.

Sejalan dengan program revitalisasi, pada tahun 2009 lalu kapasitas PG ini ditingkatkan dari 5500 menjadi 8000 tth. Dan pasokan tebu tidak hanya berasal dari lahan sendiri, melainkan juga tebu rakyat. Dari hal itu, tingginya daya saing tebu terhadap komoditas agribisnis lain menyebabkan jumlah tebu kabupaten Lumajang melimpah, sebagian diantaranya bahkan dipasok ke bebrapa PG di kabupaten tetangga.

Nah, setelah mengetahui beberapa ringkasan mengenai pembangunan PG Djatiroto dan peningkatan kapasitas giling, ada baiknya bernostalgia kembali di lahan milik PG Djatiroto seluas 7200 hektar dimana terdiri dari kebun, pabrik, rumah dinas dan lainnya. Disini anda juga bisa melihat banyaknya truk- truk yang bermuatan tebu bukan hanya truk tahun-tahun terbaru melainkan truk Mercedes Benz type 911 tahun 70an masih menapaki setiap di ruas jalan PG Djatiroto ini.

Rel-rel kereta Lori pengangkut Tebu untuk dibawa menuju pabrik masih tertata apik seakan menelusuri kebun- kebun tanaman Tebu. Juga sesekali anda akan melihat Kereta Lori berwarna kuning yang melintas membelah ruas jalan, dimana kendaraan yang anda tumpangi akan berhenti sejenak melihat Kereta Lori dengan gerbong mini khas memuat Tebu melintas dengan kecepatan minimum.

Rumah-rumah dinas bergaya kolonial Belanda kuno masih berdiri apik dan resik dihuni oleh para karyawan PG Djatiroto. Juga sesekali melihat rumah panggung ada yang sudah hancur dan tak dihuni kembali dan ada juga yang menjadi kantor sebuah bidang dari PG Djatiroto. Anda juga bisa mempir ke Persil (wilayah/ daerah) di Rojopolo Barat dimana dahulu diperuntukkan sebagai rumah dinas kepala kebun. Di daerah inilah zaman kolonial halaman luas di depan rumah dinas yang sekarang menjadi kantor digunakan untuk menggelar acara pesta dan lainnya. Nah bagaimana, selain mempunyai sisi berpetualang nan menantang, Lumajang juga cocok dibuat untuk bernostalgia bagi anda yang suka akan bangunan era kolonial, pabrik gula, mesin berumurtua, hingga kendaraan-kendaraan pengangkut tebu yang mampu mengulang masa nostalgia anda.

Sumber :    Dinukil dari Majalah Kirana, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang Tahun 2017,  hal. 74-76

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *