Pergelaran Wayang Kulit Anglingdarma

Anglingdarma adalah Raja yang mampu berbicara dalam bahasa binatang. Bagaimana ceritanya dia sampai memiliki kemampuan seperti Nabi Sulaiman itulah yang sering dikisahkan dalam seni pertunjukan. Tetapi dalam pergelaran wayang kulit kali ini, disajikan kisah Anglingdarma yang berbeda, yaitu saat-saat dia tiada atau dipercaya mengalami moksa.

Itulah yang disajikan oleh Gilang Bima Nugraha, dalang muda asal Kediri dengan lakon Anglingdarmo Mukso dalam pagelaran wayang kulit periodik di pendopo Jayengrono, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali Surabaya, Sabtu (24/2).

Lakon ini berkisah tentang dilema kehidupan Anglingdarmo sebelum meninggal dunia. Dia merasakan gelisah dan mengalami pertentangan batin pada akhir hayatnya. Dia harus memilih salah satu dari dua hal yang sama-sama berat baginya, antara kasih sayang dengan anaknya yang bernama Angling Kusuma atau mengemban amanat sepupunya, Prabu Jaya Amisena dari Kediri yang menitipkan kerajaan kepada Anglingdarmo dengan harapan ketika Kusumawicitra dewasa, negara Kediri harusdikembalikan padanya.

Wayang Gedog. Cerita Wayang Madya merupakan peralihan cerita Purwa ke cerita Panji. Salah satu cerita Wayang Madya yang terkenal adalah cerita Anglingdarma. Bentuk figurnya merupakan perpaduan antara Wayang Purwa dan Wayang Gedog, yakni bagian bawahnya meniru Wayang Gedog, berkain rapekan dan memakai keris.

Dengan pertunjukan yang digelarnya ia berharap, supaya masyarakat juga mengerti wayang madya, “kan wayang tidak hanya purwo saja. Disamping itu juga agar masyarakat mengetahui dan memahami sejarah Anglingdarma,” pungkasnya.

BUKAN TRAH DALANG

Tidak sebagaimana pada umumnya, bahwa dalang itu menurun pada anaknya, tetapi dalang yang satu ini berbeda. Laki-laki kelahiran Kediri, 25 September 1995 ini mengaku bahwa dari keluarganya tidak ada trah dalang dan seniman. Kecintaannya pada pedalangan dimulai sejak tahun 2010 sewaktu ia mengikuti ekstrakurikuler karawitan.

Saya belajar dari dalang Ki Gethuk Siswantoro di Kediri. Terus saya diundang mengikuti pelatihan dalang, karawitan dan sinden di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kediri. Saya memutuskan untuk konsen di pedalangan” tutur Gilang Bima Nugraha.

Dia mengaku sudah berkecimpung di dunia pedalangan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kemudian melanjutkan studi di SMKI Surakarta, dan kini menekuni dunia pedalangan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta jurusan pedalangan .

Prestasinya selama ini adalah, pernah mengikuti lomba dalang bocah di Taman Budaya Jatim tahun 2010 dan berhasil masuk nominasi dalang berpotensi. Tidak berhenti sampai di situ, di tahun 2017 ia masuk nominasi sebagai 10 dalang penyaji terbaik dan pada Festival Dalang Remaja Tingkat Nasional yang diselenggarakan di Ngawi, ia berhasil meraih juara 1 dengan menampilkan lakon Dasamuka Gugur.

Soal tawaran manggung, Gilang mengaku dalam sebulan ia menerima 2-3 kali tanggapan. Selain menguasai pedalangan, dia juga mahir memainkan alat musik karawitan seperti demungdan kendang. Gilang mengaku senang bisa tampil di Taman Budaya. la mengatakan, “seneng wae iso tampil nang provinsi, seng nonton akeh. Dadi seneng wae” (Bahagia saja, bisa tampil di Provinsi, yang nonton banyak. Jadi senang saja).

Menurutnya, untuk menarik minat penggemar atau penonton wayang dirinya harus memperbanyak inovasi dan belajar. Baginya, wayang adalah karya seni dan budaya yang adiluhung juga merupakan cerminan kehidupan manusia yang di dalamnya banyak mengandung nilai-nilai universal.

Gilang pun tidak mengandalkan adanya bintang tamu dalam pergelaran ini. Cukup para sindennya saja yang ikut menyanyi sebagai pemeriah suasana agar penonton tidak jenuh.

Sumber :    Majalah Seni Budaya Jawa Timur. Cak Durasim, Edisi 5 Maret 2018 [12-13]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *