Batik Kota Probolinggo

Geliat Batik Kota Probolinggo Dalam Balutan Harajuku-lndonesia.

SETELAH memecahkan rekor Muri Oktober 2010 lalu, batik khas Kota Probolinggo terus menggeliat. Kali ini batik Probolinggo itu telah didesain menjadi busana model ala Jawa, Jepang (Harajuku)-Indonesia.

Adalah Nani Kastip, Ketua Paguyuban Batik Kota Probolinggo, sutradara sekaligus inspirator di balik semua itu. Mengapa sampai ada model campuran Harajuku-lndo­nesia Style?”Ini karena kami tertantang setelah mengunjungi Jepang, 2 Juli 2012 lalu,” ujar Pembina Bayuangga Batik Carnival (BBC), Rabu (29/1) lalu.

Dikatakan saat modelnya memeragakan fesyen batik di Harajuku, seorang desainer Jepang, Natatimiko memberikan tantangan. “Saya diminta menampilkan model berbusana Harajuku dan Indonesia,” ujarnya.

Karena selama ini bergulat mendampingi puluhan perajin batik di Kota Probolinggo, batik pun dipadukan dengan busana ala Harajuku itu. “Sekarang kita coba tampilkan di sini. Nanti saat even besar, Semipro (Seminggu di Kota Probolinggo, Red.), Natatimiko akan datang ke Probolinggo,” katanya sebagaimana dikutip Surya.

Dan Selasa sore, halaman Museum Probolinggo di Jl. Suroyo pun gegap gempita. Sekitar 30 model dari BBC beraksi di “catwalk” berupa hamparan aspal dan paving stone di halaman museum.

Tidak hanya warga Kota Probolinggo yang terlihat menyaksikan kegiatan fesyen itu. Sejumlah tamu dari Helsinburg, Swedia, yang tergabung dalam kerjasama “Simbio City” dengan Kota Probolinggo juga menyaksikan fesyen tersebut.

Namun baru sekitar setengah jam fesyen digelar, hujan deras mengguyur Kota Probolinggo. Meski para penonton berhamburan ke teras museum, para model tetap melenggak-lenggok di halaman museum, di bawah guyuran hujan.

Batik khas Probolinggo sendiri mulai mencuat ketika 8 Oktober 2010 silam, 11 perajin batik di kota ini memecahkan
Museum Rekor Indonesia (Muri). Para perajin itu menghasilkan karya kain sepanjang 100 meter dengan 651 motif yang kemudian dijadikan “ekor” pengantin endalungan (campuran Jawa-Madura).

Sebenarnya ke-11 orang itu awalnya bukan perajin batik. Mereka Hendro, Ida Kustiyani, Mytha Agustina, Rina, Wasis, Yovi, Nanin, Anjar, Malika, dan Gatot awalnya hanya mengikuti pelatihan batik yang digelar PKK Kota Probolinggo, 2009 silam.

Suskes dengan gebrakan memecahkan rekor Muri, perajin batik mengembangkan kampung batik di Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Tepatnya di Jl. Haryono Gang VI sampai X. Puluhan perajin baru kemudian bergabung di kampung batik itu. Kini batik Probolinggo tidak hanya digemari warga lokal, tetapi juga dipesan berbagai kota di Indonesia. Bahkan motif batik menjadi salah satu seragam pegawai di lingkungan Pemkot Probolinggo. “Batik Probolinggo pernah dipesan panitia SEA-Games di Palembang,” tambahnya, «sih/ss

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kirana
EDISI 77, TAHUN VlllFEBRUARI 2013, hlm. 10

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *